“Hidup itu sepahit kopi.” Seorang siswa SMA bernama Seiichiro Watari menjalani hidup dengan prinsip sederhana yaitu tetap tenang, realistis, dan jangan berlebihan. Karena suatu keadaan, dia tinggal sekaligus bekerja sebagai pegawai di sebuah kedai kopi tradisional (kissaten) milik keluarga kenalannya. Seiichiro cuma ingin melewati masa SMA-nya dengan tenang tanpa membuat masalah. Namun suatu hari dalam […]
“Hidup itu sepahit kopi.”
Seorang siswa SMA bernama Seiichiro Watari menjalani hidup dengan prinsip sederhana yaitu tetap tenang, realistis, dan jangan berlebihan. Karena suatu keadaan, dia tinggal sekaligus bekerja sebagai pegawai di sebuah kedai kopi tradisional (kissaten) milik keluarga kenalannya.
Seiichiro cuma ingin melewati masa SMA-nya dengan tenang tanpa membuat masalah. Namun suatu hari dalam perjalanan pulang, dia mengetahui kalau teman sekelasnya, Sumika Sumikano, ternyata menyimpan perasaan kepadanya.
Tapi Seiichiro berada dalam posisi di mana dia tidak bisa begitu saja menerima perasaan Sumika.
Alasannya? Sumika adalah putri satu-satunya keluarga Sumikano—keluarga yang selama ini memberinya tempat tinggal sekaligus pekerjaan di kedai kopi mereka. Dengan kata lain, Sumika tinggal satu atap dengannya dan sudah hampir seperti keluarga sendiri.
“Hei, Seiichiro-kun... jangan-jangan kamu menghindariku?”
Perasaan mereka perlahan menumpuk, diam-diam namun pasti.
Di sebuah kedai kopi yang hangat di tengah dinginnya musim salju, dimulailah kisah romansa masa muda yang manis tentang dua orang yang sama-sama kikuk dalam menghadapi perasaan mereka—seperti salju yang perlahan turun menyelimuti kota.